Lampung Sai – Sang Bumi – Rua Jurai

5 11 2007

Sang Bumi Ruwa Jurai 

Cipt. Syaiful Anwar

  • Jak ujung danau ranau…
  • Taliu mit way kanan…
  • Sampai pantai lawok jaoh…
  • Pesisir rek Pepadun …
  • Jadi sai delom lamban…
  • Lampung sai kayo rayo 

Lampung sai… sang bumi … ruwa jurai 2x                        

  • Sekam aga bu lagu….
  • helau ni pumandangan…
  • kopi lada di pematang…
  • Api lagi cengkeh ni…
  • Telambun beruntaian…
  • Tanda ni kemakmuran…

Lampung sai… sang bumi…. ruwa jurai 2x            

  • Sekam aga bughasan… 
  • Sembah jama saibatin…
  • Sino dawi adat sikam…
  • Manjau rek sebambangan…
  • Tari adat melinting…
  • Tanda ni ulun Lampung…

Lampung sai… sang bumi ….ruwa jurai 2x





Pantai Tanjung Setia

1 11 2007

Pantai Tanjung Setia terletak di Pekon Bumi Agung yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Pesisir Selatan (+/- 22 km dari Krui). Kegiatan wisata yang dapat dilakukan di pantai ini antara lain ; berenang, menyelam, piknik, mengumpulkan kerang, berselancar, berperahu dan bersepeda menyusuri sepanjang pantai.  Selengkapnya…..





Pantai Labuhan Jukung

1 11 2007

Pantai Labuhan Jukung berlokasi di Pekon Kampung Jawa -Kecamatan Pesisir  Tengah.  Selengkapnya…..





SANG BUMI RUWA JURAI

26 10 2007

‘SANG BUMI RUWA JURAI’  Itulah kalimat indah yang tertulis pada lambang resmi pemerintah daerah propinsi lampung, tapi kalimat tersebut tidak hanya sekedar indah namun mempunyai makna tersendiri bagi adat istiadat daerah tersebut.

 ‘Sang Bumi Ruwa Jurai’ berarti satu tanah terdiri dua turunan atau terbagi dalam dua lingkungan masyarakat adat yaitu : 

1.       Masyarakat adat Sai Batin

2.       Masyarakat adat Pepadun. 

Masyarakat adat Sai Batin pada umumnya berdomisili didaerah pesisir lampung, dimulai dari daerah Sekala Beghak, Ranau, pesisir barat (Krui), Kota Agung (Semaka) dan Kalianda. Sedangkan masyarakat adat Pepadun berdomisili didaerah bagian tengah dari lampung seperti Abung, Manggala dan daerah Pubian. 

Perbedaan yang mendasar dari dua adat istiadat tersebut adalah mengenai status dan gelar seorang Raja adat. Bagi adat Sai Batin dalam setiap generasi (masa/periode) kepemimpinan hanya mengenal satu orang raja adat yang bergelar Sultan, hal tersebut sesuai dengan istilahnya yaitu Sai Batin artinya Satu Batin (satu orang junjungan).  Seorang Sai Batin adalah seorang Sultan berdasarkan garis lurus sejak jaman kerajaan (keratuan) yang pernah ada di lampung sejak dahulu kala dan inilah yang disebut Sai Batin Paksi,  sebagai keturunan langsung dari Keratuan Paksi Pak Sekala Beghak sejak jaman dahulu sebagai satu-satunya pemilik dan penguasa adat tertinggi dilingkungan paksi-nya. 

Selain Sai Batin Paksi ada juga yang disebut Sai Batin Marga, namun Sai Batin Marga ini lahir pada saat pemerintahan Belanda tetapi telah diakui dan disah-kan oleh Sai Batin Paksi sebagai Sultan.  Pengakuan dan pengesahan status Sai Batin Marga oleh Sai Batin Paksi mutlak diperlukan karena apabila berbicara tentang masalah adat, mau tidak mau, suka atau tidak suka sumber utamanya adalah dari Paksi Pak sebagai kerajaan yang ada dan berdiri di Sekala Beghak. Karenanya walaupun dalam pakaian, peralatan dan sebutan Sai Batin Marga meniru apa yang dipakai oleh Sai Batin Paksi, namun dalam status kedudukan lebih tinggi Sai Batin Paksi. Sebaliknya walaupun status kepala adatnya bukan berasal dari kerajaan yang pernah ada tetapi Sai Batin Marga juga mempunyai wilayah, mempunyai masyarakat adat yang mengakuinya sebagai pemimpin tertinggi didalam marga dan berlangsung turun temurun dengan sebutan yang disamakan dengan Sai Batin Paksi. 

Seorang Sai Batin adalah satu-satunya sosok yang dimulyakan didalam masyarakat adatnya, hal ini tercermin dalam setiap upacara-upacara adat, perkawinan, sukuran, pemberian gelar adat dan lain-lain upacara. Seorang Sai Batin berwenang dan berkuasa penuh dikalangan masyarakat adatnya, dan gelar Sultan (Suttan) adalah hanya satu-satunya untuk seorang raja adat (Sai Batin). 

Didalam budaya masyarakat adat Pepadun juga dikenal kepala-kepala adat yang disebut Penyimbang dengan gelar Sultan (Suttan), tetapi Sultan ini dapat juga memberikan gelar Suttan kepada siapa saja dalam masyarakat adat asalkan dapat memenuhi syarat-syarat, terutama pada saat penyelenggaraan pesta adat CAKAK PEPADUN (naik pepadun) yang dilakukan dengan biaya yang besar dan mahal, karenanya didalam satu masyarakat pepadun, sering kita mendengar bahkan saksikan berpuluh-puluh bahkan mungkin beratus orang yang bergelar Sultan (Suttan), akan tetapi hal tersebut tidak identik dengan Penyimbang, karena gelar Sultan (Suttan) bukanlah status sebagai  kepala adat, sehingga sekilas agak susah membedakannya dengan SIPENYIMBANG  tetapi hal tersebut dapat dimaklumi adalah dalam rangka membesarkan lingkungan masyarakat adatnya yang secara demokratis memberi kesempatan kepada setiap orang dalam masyarakat untuk bisa mendapatkan derajat dalam adat dan gelar tertinggi itu. Sehingga secara positip memacu orang untuk maju, sehingga pada saatnya kelak akan menempatkan dirinya setarap  dan sejajar dengan para penyimbangnya.





Sastra Lampung

23 10 2007

Jenis sastra lisan Lampung 

A. Effendi Sanusi (1996) membagi lima jenis sastra tradisi lisan Lampung: peribahasa , teka-teki , mantera , puisi , dan cerita rakyat.  

1. Sesikun/sekiman (peribahasa)

Sesikun/sekiman adalah bahasa yang memiliki arti kiasan atau semua berbahasa kias. Fungsinya sebagai alat pemberi nasihat, motivasi, sindiran, celaaan, sanjungan, perbandingan atau pemanis dalam bahasa.  

2. Seganing/teteduhan (teka-teki)

Seganing/teteduhan adalah soal yang dikemukakan secara samar-samar, biasanya untuk permainan atau untuk pengasah pikiran.  

3. Memmang (mantra)

Memmang adalah perkataan atau ucapan yang dapat mendatangkan daya gaib: dapat menyembuhkan, dapat mendatangkan celaka, dan sebagainya.  

4. Warahan (cerita rakyat)

Warahan adalah suatu cerita yang pada dasarnya disampaikan secara lisan; bisa berbentuk epos, sage, fabel, legenda, mite maupun semata-mata fiksi.  

5. Puisi

Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan seseorang secara imajinatif dan disusun dengan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasikan struktur fisik dan struktur batin.  

Bentuk-bentuk puisi lisan Lampung 

Berdasarkan fungsinya, ada lima macam puisi dalam khasanah sastra tradisi lisan Lampung:

1. Paradinei/paghadini,

2. Pepaccur/pepaccogh/wawancan

3. Pattun/segata/adi-adi

4. Bebandung

5. Ringget/pisaan/dadi/highing-highing/wayak/ngehaha do/hahiwang.  

Paradinei/paghadini 

Paradinei/paghadini adalah puisi tradisi Lampung yang biasa digunakan dalam upacara penyambutan tamu pada saat berlangsungnya perta pernikahan secara adat. Paradinei/paghadini diucapkan jurubicara masing-masing pihak, baik pihak yang datang maupun yang didatangi. Secara umum, isi paradinei/paghadini berupa tanya jawab tentang maksud atau tujuan kedatangan.

Pepaccur/pepaccogh/wawancan 

Pepaccur/pepaccogh/wawancan adalah puisi tradisi Lampung yang berisi nasihat atau pesan-pesan setelah pemberian adok (gelar adat) kepada bujang-gadis sebagai penghormatan/tanda telah berumah tangga dalam pesta pernikahan. Pemberian adok (gelar adat) dilakukan dalam upacara adat yang dikenal dengan istilah butetah atau istilah lainnnya, ngamai dan nginai adek, ngamai ghik ngini adok, dan kabaghan adok atau nguwaghko adok.  

Pantun/Segata/Adi-Adi 

Pantun/segata/adi-adi adalah salah satu jenis puisi tradisi Lampung yang lazim di kalangan etnik lampung digunakan dalam acara-acara yang sifatnya bersukaria, misalnya pengisi acara muda mudi nyambai, miyah damagh, kedayek.  

Bebandung 

Bubandung adalah puisi tradisi Lampung yang berisi pertuah-petuah atau ajaran yang berkenaan dengan agama Islam.  

Ringget/Pisaan/Dadi/Highing-Highing/Wayak/Ngehaha do/Hahiwang

Ringget/pisaan/dadi/highing-highing/weyak/ngehaha do/hahiwang adalah puisi tradisi Lampung yang lazim digunakan sebagai pengantar acara adat, pelengkap acara pelepasan pengantin wanita ke tempat pengantin pria, pelengkap acara tarian adat (cangget), pelengkap acara muda-mudi (nyambai, miyah damagh, atau kedayek), senandung saat meninabobokan anak, dan pengisi waktu bersantai.





Asal Usul Marga Ulu Krui

22 10 2007

BAHWA inilah asal usul keturunan – dari Nabi Adam hingga zaman Nabi Nuh – asal Kebuayan namanya. Maka tatkala karam zaman Nabi Nuh keluar seorang dari Madinah – UMPU SAKTI dilampung namanya. Keluar pergi ke Pagaruyung terus menyusur tanah banten, lalu berjalan ke GUNUNG PESAGI, terus mampir SEKALA BERAK. Maka sesampainya beliau di Sekala Berak, beliau bertemu bertemu dengan BUAY PARUNJUNG TUHA dari PANGERAN KEMBAHANG, sudah menjadi PAKSI ditanah Kembahang. Maka beliau Bergelar BUDJAGA SAKTI. Alkisah, maka tersebutlah akan cerita RAJA BUDJAGA SAKTI itu datang ke Marga BUAY BULUNGUH dengan maksud akan menjadi Paksi disana dengan membawa jari telunjuk beliau yang sangat bisa. Apabila telunjuk beliau itu ditunjukkan pada jenis yang bernyawa walaupun jauh sekalipun, lantas mati. Demikianlah daripada bisa nyatelunjuk beliau itu. Maka sesampainya di Buay Bulunguh, beliau bertemu dengan TUHA PANGERAN KENALI sudah berada disana. Maka Raja Budjaga Sakti, undur pergi ke Dusun NEGERI CANDA namanya, terletak disebelah kiri Dusun KENALI. Setelah itu beliau tinggal disana, sampai beliau beranak 4 (empat) orang. Yang tertua RAJA KESAKTIAN, yang kedua RAJA BAGINDA, yang ketiga RAJA NGGALUH, yang keempat perempuan namanya CANGGAH WUWAH. Adapun beliau RAJA BUDJAGA SAKTI tadi diangkat TUHA PANGERAN KENALI menjadi HULUBALANG yang sangat perkasa lagi berbakti. Maka tiada berapa lamanya Tuha Pangeran Kenali kedatangan musuh, maka lantas datang Hulubalang Raja Budjaga Sakti tadi menunjukkan musuh itu, kiranya musuh itu tidak mati maka sangat heran beliau memikirkan telunjuk beliau itu sudah menjadi tawar dan beliau sangat malu pada Tuha Pangeran Kenali, maka lantas telunjuk beliau itu dipotong beliau, dan beliau masukkan pada seruas kaur (bambu) dihanyutkan beliau pada sungai (way) Semaka. Lantas beliau Raja Budjaga Sakti ghaib dari pandangan orang banyak. Wallahu ‘alam perginya.  Hatta tersebutlah cerita telunjuk beliau tadi hanyut di air (way) Semaka, maka keadaannya menangis-nangis. Lalu terdampar ditepi sungai itu, dimudik pangkalan tempat mandi orang Dusun Kerang. Maka tiba-tiba datang seorang perempuan akan mandi disana. Maka terdengar padanya ada suara orang menangis, maka diamat-amatinya, kiranya suara itu ada didalam seruas kaur, maka lantas diambilnya. Maka dituangkannya akan kaur itu maka keluarlah sebuah telunjuk jari dan berkata itu telunjuk dengan katanya ; Aku telunjuk Raja Budjaga Sakti. Maka dipulangkan oleh perempuan itu ke Dusun Kerang, diperlihatkannya dengan orang tuha-tuha disana. Maka orang tuha-tuha itu ada merasa takut, maka disuruh kembalikan pada perempuan itu pada tempatnya terdampar tadi. Lalu seruas kaur tadi tumbuh disana dan dinamakan akan dia Kaur Telunjuk, ada sampai sekarang tempat orang mengambil tongkat dengan ijin anak-anak beliau itu tadi.

Hatta, maka tersebutlah akan 4 (empat) orang anak beliau itu tadi sangat masghul oleh karena memikirkan bapaknya sudah ghaib itu, lalu 3 (tiga) orang yang laki-laki itu tadi berjalan menurut kehendak hatinya dan yang perempuan itu tinggal di Negeri Canda. Maka seorang yang tertua yaitu Raja Kesaktian sampai di Semaka dusun Tarbaya sampai sekarang ada disana dan sudah banyak dzuriyat beliau disana. Maka yang dua orang yaitu Raja Baginda dan Raja Nggaluh pergi ke tanah Sungi, akan mencari kehidupan disana. Hal keadaan tanah Sungi itu dikelilingi oleh rumpun bambu dan disanalah beliau keduanya menyembunyikan dirinya.

Alkisah, maka tersebutlah cerita tuha PAKSI NGARAS, turun dari Pagaruyung pergi ketanah Sekala Berak, bermaksud akan menjadi Paksi di Kembahang beserta dengan seorang Hulubalangnya. Kiranya sampai disana beliau sudah bertemu dengan Tuha PAKSI KEMBAHANG sudah disana. Maka keduanya pun memutar haluan akan pergi ke arah laut, menuju muara air (way) Tanumbang, sebab beliau bermaksud menjadi Paksi disana, dengan melalui tanah Sungi. Maka dikira-kira beliau keduanya disitu ada manusia, lantas diseru-serunya, maka menyahutlah Raja Baginda keduanya. Maka bermusyawarahlah ke empat-empatnya.

Maka ialah Raja Nggaluh mengikuti Tuha Paksi Ngaras pergi di Tanumbang dan Raja Baginda tinggal di tanah Sungi. Setelah sampai ditanah Tanumbang maka beliau sudah bertemu dengan Tuha Paksi Tanumbang sudah ada disana. Maka ketiganya pun meneruskan perjalanan sampai disungai (way) Ngaras dan disanalah ketiganya tinggal selamanya, serta berbagi tanah Atar Lay namanya. Disebelah sini air (way) Ngaras bahagian Raja Nggaluh, disebelah situ air (way) Ngaras, bahagian Tuha Paksi Ngaras.  

Sudah lama Raja Nggaluh disana dan Atar Lay sudah jadi maka Raja Nggaluh tidak merasa senang lagi, ialah beliau berjalan balik sehingga seterus-terusnya berjalan ialah beliau sampai di tanah Kuta Agung namanya, hingga disanalah Raja Nggaluh ada lama. Dan beliau itu kawin dengan Tuha Mansyur Batin Banjar Negeri. Maka beliau pun mulai membuat sawah pula yaitu mulai dari sawah kuripan sampai disawah Siti berbatas dengan sawah ipar beliau itu. Maka Raja Nggaluh itu beranak 2 (dua) orang. Yang tuha perempuan namanya LANCA disemandakan dikawinkan dengan orang Melayu, disuruhnya memperbaiki tanah Banding. Dan yang muda Laki-laki namanya PUNGKOR GEDI, tinggal diKuta Agung.  Maka pada satu ketika Raja Nggaluh sama anaknya yang perempuan ditanah Banding maka Baginda dapat sakit disana, lantas ia berpulang ke rahmat Allah Ta’ala, ditanamkan di tanah Banding Langgar, ialah yang kita sebut Makam Bahbaru. Dan tidak pula  seberapa lamanya, Pungkor Gedi pun dapat sakit pula di Kota Agung dan meninggal dunia pula dan ditanamkan beliau itu di Cugung Putusan kemudian mudik ke Sukamarga. Tidak berapa lama disana perempuan beliau Raja Nggaluh dapat sakit pula sehingga berpulang ke rahmat Allah Ta’ala, ditanamkan di ilir dusun Sukadana beserta dengan anak-cucunya. Lama kelamaan pekuburan dusun itu dirusak air, tinggal sedikit lagi yang belum rusak, maka lantas dipindahkan kuburan itu ke Banding Langgar. Wassalam. 

Maka inilah keterangan ceritanya asal-usul keturunan dari Kebuayan kita, yaitu Raja Nggaluh turunan dari Negeri Canda marga Kenali, pada Ulu Krui. Maka ini ceritanya tersimpan di Raja Baginda bin Batin Pemuka bin Jaksa Batin Sukamarga Ulu Krui. Ditulis ini cerita dipindahkan dari Buku Tuha. 

Tanggal 16 Djumadil Akhir 1358 H.





Marga di Lampung

22 10 2007

Marga di Lampung

Lampung mengenal marga-marga yang mulanya bersifat geneologis-territorial. Tapi, tahun 1928, pemerintah Belanda menetapkan perubahan marga-marga geneologi-territorial menjadi marga-marga territoroal-genealogis, dengan penentuan batas-batas daerah masing-masing.Setiap marga dipimpin oleh seorang kepala marga atas dasar pemilihan oleh dan dari punyimbang-punyimbang yang bersangkutan. Demikian pula, kepala-kepala kampung ditetapkan berdasarkan hasil pemilihan oleh dan dari para punyimbang.

Di seluruh keresidenan Lampung, terdapat marga-marga territorial sebagai berikut:

Marga di Lampung

Susunan marga-marga territorial yang berdasarkan keturunan kerabat tersebut, pada masa kekuasaan Jepang sampai masa kemerdekaan pada tahun 1952 dihapus dan dijadikan bentuk pemerintahan negeri. Sejak tahun 1970, nampak susunan negeri sebagai persiapan persiapan pemerintahan daerah tingkat III tidak lagi diaktifkan, sehingga sekarang kecamatan langsung mengurus pekon-pekon/kampung/desa sebagai bawahannya.

Diperoleh dari “http://id.wikipedia.org/wiki/Marga_di_Lampung





Umpu Belunguh

21 10 2007

Asal keturunan Batin Paksi Dusun Bumi Agung Marga Kenali 

Keterangan ini diambil dari buku tambo Mat Siradj gelar Raja Paksi Bumi Agung pada tanggal 24 September 2000 jam 16.00, tambo tersebut dibacakan oleh Ahmad Nasri gelar Raja Penyimbang Ratu Sukadana Kenali. Ditulis ulang dan suling bahasa oleh Basis Syarif.

Bermula diriwayatkan, adapun yang menjadi Raja dan memerintah negeri kenali pada saat itu adalah Ranji Pasai berkedudukan di Barnasi, raja ini beserta rakyatnya ber-agama Budha dengan menyembah patung-patung dan kayu-kayu yang dibuat oleh nenek moyang mereka.
Pada waktu itu datang seorang laki-laki yang bernama Umpu Belunguh. Umpu Belunguh (berdasarkan surat-surat keterangan yang tertulis pada kulit kayu) datang dari Madinah atau tanah arab dan beliau ini pernah juga ke Istambul dan Bagdad.
Perjalanan Umpu Belunguh, berawal dari Madinah lalu ke Hadratul-maut, tidak diketahui dengan cara dan jalan apa sampailah Umpu Belunguh ke Pagarruyung Sumatera Barat, maksud dari perjalanan Umpu Belunguh adalah untuk mengembangkan agama Allah (Islam). Setelah beliau sampai di Pagarruyung berjumpalah dia dengan orang-orang Pagarruyung yang sudah ber-agama Islam, setelah beberapa lama beliau tinggal dan menetap di Pagarruyung lalu beliau meneruskan perjalanan untuk mengembangkan agama Islam bersama dengan 7 (tujuh) orang hulu balang pemberian raja Pagarruyung untuk menjadi teman beliau dalam perjalanan. Lalu mereka ini memulai perjalanan dengan menyisir arah ke Batanghari, musi atau resident Palembang, sesampai mereka ke satu dusun yang bernama Libahaji (Resident Palembang) Libahaji ini adalah sebuah negeri tua tempat kedudukan nenek moyang RAKIAN menjadi raja dan duduk memerintah pada waktu itu.Umpu Belunguh dengan para hulubalangnya menjumpai raja Rakian dan menceritakan maksud dan tujuan dari perjalanan mereka yaitu untuk mengembangkan agama Islam, Raja Rakian bersama rakyat-rakyatnya pada waktu itu ‘dapat dikatakan’ sudah memeluk agama Islam. Setelah beberapa waktu lamanya umpu belunguh serta para hulu balangnya menetap di Liba Haji ini, dan pada suatu saat beliau pamit dan mohon izin pada raja Rakian untuk meneruskan perjalanan, oleh raja Rakain di-izin-kan. Umpu Belunguh dengan para hulu balang-nya meneruskan perjalanan dan sampai pada suatu dusun subik di wilayah marga ranau mereka tinggal dan menumpang pada raja yang berkuasa disini yaitu UMPU SAHUJAN, dan umpu belunguh tinggal untuk beberapa lama disini dengan maksud untuk mengembangkan agama Islam, akan tetapi umpu sahujan dan rakyatnya ternyata juga sudah memeluk agama Islam. Dari umpu sahujan ini umpu belunguh mendapat banyak informasi dan keterangan yang lengkap bahwa di Barnasi penduduk beserta raja-nya belum ber-agama Islam, dan pada saat itu masih menyembah batang-batang kayu serta patung-patung.

Umpu Belunguh bercerita panjang lebar tentang maksud dan tujuannya kepada umpu sahujan dan oleh karena diwilayah kekuasaan umpu sahujan masyarakat telah ber-agama Islam, maka umpu belunguh pamit kepada umpu sahujan untuk meneruskan perjalanan mereka, oleh karena rasa sayang-nya umpu sahujan kepada umpu belunguh dan rombongan maka umpu sahujan menyertai umpu belunguh untu berjalan bersama-sama, lalu dacari hari dan waktu yang baik (sesuai dengan kepercayaan raja-raja pada waktu itu), dan dikumpulkan-lah para hulu balang dari umpu sahujan, kemudian mereka berangkat bersama-sama menuju ke-arah barnasi, mereka ini semua sampai di Sukau, Kembahang, terus ke Hanibung atau Batu Beghak dan terus ke barnasi, sepanjang perjalanan yang dilalui ternyata masyarakat sudah mengenal dan bahkan sudah memeluk agama Islam.

Sesampainya rombongan ini di Barnasi, maka umpu belunguh bersama umpu sahujan dan para pengawalnya ber-inisiatif untuk menghadap raja yang berkuasa pada waktu itu yaitu Ranji Pasai atau Sekerumong, sebagaimana yang telah dirilis sejak awal tulisan ini, lalu umpu belunguh dan umpu sahujan serta para pengawalnya memperkenalkan diri dengan ranji pasai serta mereka tinggal dan menumpang di rumah raja ini, namun dalam waktu yang singkat mereka belum menceritakan maksud dan tujuan dari kedatangan mereka kepada Ranji Pasai, tetapi setelah beberapa lama mereka tinggal dan menetap disini dan setelah situasi dapat dibaca lalu umpu belunguh dengan siasatnya meminta tanda kenang-kenangan untuk persahabatan kepada raji pasai berupa sebidang tanah untuk tempat umpu belunguh mendirikan rumah, dan oleh ranji pasai permintaan tersebut dengan segala ke-ikhlasan dan senang hati dikabulkan dan tanah tersebut bernama Sangawikh, oleh umpu belunguh dan para pengawalnya serta bantuan dari rakyat ranji pasai mendirikan sebuah rumah. Setelah rumah tersebut selesai dibangun lalu di-tempati oleh umpu belunguh bersama dengan para pengikutnya, setelah mereka menempati rumah tersebut, lalu umpu belunguh dan dibantu oleh umpu sahujan melaksanakan tujuan utama mereka yaitu mengembangkan agama Islam, mula pertama umpu belunguh men-indoktrinasi rakyat dari raji pasai dan hasilnya baik dengan melebihi separo rakyat yang memeluk agama Islam.

Oleh karena umpu belunguh telah berhasil meng-islam-kan sebagian besar rakyat dari ranji pasai, dan pada suatu hari umpu belunguh menemui raja Ranji pasai dengan maksud dan tujuan yang sama setelah dialog dibuka tanya jawab dimuali, argumentasi masing-masing berseleweran dengan hasil akhir bahwa ranji pasai keberatan dan tidak mau memeluk agama Islam, dan tiada berkehendak untuk meninggalkan agama nenek moyang mereka yang telah dipeluk sangat lama. Umpu Belunguh menurut sebagian besar orang yang ada disekelilingnya adalah seorang ulama besar dan sangat taat menjalan ibadah sesuai dengan agama yang dianutnya (Islam), dan belaiu ini pada zamannya di kramatkan oleh penduduk setempat, ia adalah seorang yang pantang menyerah, dan tiada mudah berputus asa, serta keras akan kemauannya. Belaiu pamit pada raja untuk pulang ke rumahnya di sanggawikh, dan berulang-ulang umpu belunguh menjumpai sang raja dengan maksud untuk meng-islam-kan nya, akan tetapi sang raja tetap pada pendiriannya dan tetap tidak mau memeluk agama islam, dan sang raja mengancam umpu belunguh untuk diusir dari sangawikh bila mana tidak menghentikan propokasinya dan bila juga tidak menghentikan maka akan digunakan cara kekerasan.

Umpu Belunguh dan umpu sahujan beserta rakyat dan pengikut masing-masing tidak pernah berciut nyali dengan segala macam bentuk ancaman dari ransi pasai (sang raja), dan mereka tetap sabar serta senantiasa melakukan dakwah-dakwah terutama terhadap masyarakat yang masih belum memeluk islam, ancaman-ancaman dari raja Ranji pasai semuanya diceritakan pada umpu sahujan dan kepada semua masyarakat pengikutnya, mendengar cerita tentang ancaman dari raja Ranji pasai – maka segenap rakyat umpu belunguh menjadi murka dan segala macam patung-patung dan berhala yang menjadi sesembahan dari ranji pasai dirusak dan diluluh lantak-kan. Hal itu lantas diketahui oleh ranji pasai berdasarkan laporan dari pengikutnya, dengan murkanya pula ranji pasai dan dengan seketika itu pula dikumpulkannya para hulu balang dan rakyatnya untuk mengusir umpu belunguh beserta pengikutnya dari sanggawikh, tetapi tiada dinyana oleh sang raja bahwa rakyatnya sudah banyak yang memihak umpu belunguh, dengan demikian ciut pula hati sang raja dan beliau mengalah dan pindah dari istana kerajaannya menuju istana yang lain yaitu di jerambai bedudu.
Setelah diketahui oleh umpu belunguh bahwa sang raja sudah pindah ke jerambai bedudu maka kembali dikunjungi oleh umpu belunguh kediaman sang raja yang baru dengan maksud semula untuk meng-islam-kannya, akan tetapi sang raja ini ternyata masih tetap pada pendirian semula, bahwa beliau tetap tidak mau masuk agama islam dan dengan murkanya beliau lalu diusir nya umpu belunguh dari istananya, dan umpu belunguh bercerita pada para pengikutnya atas pengusiran sang raja terhadap dirinya, dengan tiada dapat dibendung lagi maka bertolak pula para rakyat umpu belunguh dan umpu sahujan menuju istana jerambai dengan membawa senjata yang cukup, dan dari pihak raja Ranji pasai di jerambai beserta rakyat yang masih setia padanya bersiap diri juga lengkap dengan persenjataannya untuk menghadang kedatangan dari pasukan umpu belunguh dan umpu sahujan, pertempuran dimulai dan ternyata pasukan dari raja ranji pasai kalah dan tidak mampu untuk melanjutkan pertempuran dan mereka lari tunggang langgang dan terakhir sang raja lari ke gunung pesagi, sehingga akhirnya riwayat ranji pasai hileng jejak dan tidak dapat dilacak lagi.
Oleh karena umpu belunguh telah menang dalam pertempuran ini dan barnasi tiada mempunyai penguasa lagi, maka umpu belunguh bersama rakyatnya menduduki barnasi, atas kehendak dan pilihan dari rakyatnya maka umpu belunguh diangkat menjadi raja di barnasi. Dengan kedudukan beliau sebagai penguasa baru di barnasi beliau tetap terus menjalankan aktivitasnya mengembangkan agama islam, namun setelah menjadi raja di barnasi aktivitasnya lebih lancar dan tidak ada lagi gangguan yang berarti.

Umpu belunguh selama tinggal dan menjadi raja di barnasi tidak mempunyai istri dan dengan demikian tidak pula mempunyai anak keturunan, oleh karena beliau tidak mempunyai anak keturunan maka belaiu mengangkat 7 (tujuh) orang kesayangannya untuk menjadi anaknya, mereka adalah :

1.Beringin muda asal keturunan perwatin tanjung sekarang.
2.Tata asal keturunan Ya’cub ginting.
3.Tatau asal keturunan raja pemuka dusun gunung kemala.
4.Djaga asal keturunan Batin Terja negeri canda.
5.Kuning asal keturunan Batin paksi (yang menulis tambo ini).
6.Manda asal keturunan Raja mulia kota karang.
7.Sindi (perempuan) asal keturunan pesirah kenali.
Masing-masing mereka yang ke tujuh orang ini mempunyai surat-surat dan keterangan dari keturnan mereka. Dari ketujuh anak angkat umpu belunguh ini, maka anak yang nomor lima atau KUNING diangkat beliau menjadi raja dimasa itu dan menggantikan kedudukannya.
Setelah Kuning menjadi raja dan sekaligus sebagai penguasa pada saat itu, maka pada suatu hari umpu belunguh berjalan-jalan menikmati tamasya alam dan karena tamasya nya itulah dia hilang tidak tentu rimbanya hingga kini dan tiada seorangpun yang mengetahui kemana perginya (wallahu’alam bissawab).

Sedangkan umpu kuning mempunyai 4 (empat) orang anak, masing-masing :
1.Pemuka raja anum.
2.Pangeran mangkubumi.
3.Kimas menjaga batin.
4.Raden mengunang.

CATATAN :Data ini tidak dilengkapi oleh tanggal dan tahun penulisan, namun kalau akan di-ikuti dari jejak bahasa penulisannya terbit sekitar tahun 50-an.